Tugas Kita Adalah Bersaksi!


“…Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!” (Markus 5:19).

Sebelum Yesus naik ke sorga Ia meninggalkan pesan kepada murid-muridNya, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”  (Kisah Para Rasul 1:8).  Setelah kuasa Roh Kudus turun di hari Pentakosta,  “…penuhlah mereka dengan Roh kudus,…”  (Kisah Para Rasul 2:4).

Sejak saat itu para murid Yesus mengalami perubahan hidup yang luar biasa, mereka tidak lagi takut atau ragu, melainkan dengan penuh keberanian bersaksi tentang Kristus kepada siapa pun yang dijumpainya, dan melayani Tuhan dengan semangat yang menyala-nyala.

Menjadi saksi Kristus adalah tugas setiap orang percaya yang harus dilakukan sampai kedatangan Tuhan.  Bersaksi berarti memberi kesaksian atas apa yang dialami, dilihat dan dirasakannya secara pribadi, bukan menceritakan pengalaman orang lain. Tuhan Yesus pernah menyampaikan perihal seseorang yang telah disembuhkan secara ajaib dari kuasa setan yang telah menguasainya sekian lama, bahkan membuatnya tidak normal: ia berada di kuburan siang malam dan berteriak-teriak sambil memukul-mukul badannya dengan batu. Setelah disembuhkan dan dipulihkan, orang itu rindu untuk mengikut Tuhan Yesus, tapi Tuhan melarangnya dan menganjurkan dia untuk pulang ke rumah dan bersaksi kepada orang-orang di kampungnya, “Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran.”  (Markus 5:20).

Bersaksi bukanlah pekerjaan yang mudah. Alkitab dengan tegas memberitahukan konsekuensi menjadi saksi Tuhan. Misalnya ditolak, disingkirkan, diperlakukan buruk, kehilangan kehormatan bahkan mati sebagai martir. Beriman kepada Kristus harus bertumbuh dan berbuah lewat kesaksian. Oleh karena itu, Tuhan juga memperlengkapi orang percaya dengan KUASA untuk bersaksi.

Meskipun jaminannya KUASA TUHAN, namun ketakutan masih saja membelenggu orang percaya. Sebenarnya, ketakutan manusia sangat wajar. Rasul Paulus pun berkata : “Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.” (1 Korintus 2:3). Tapi tak membuat Rasul Paulus berhenti bersaksi. Ketakutan yang membuat orang percaya berhenti bersaksi sama artinya tidak memercayai pemeliharaan Tuhan. Yesus berkata dalam (Matius 10:29) “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun daripadanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.”

Burung Pipit adalah burung yang kecil, lemah, tidak bernilai, namun dipelihara Tuhan. Hal-hal sepele yang tak dipikirkan akal manusia dipikirkan Tuhan. Berapa helai rambut dikepalamu? Tuhanpun mengetahui jumlahnya. Kata-kata Yesus ini sungguh menjadi penghiburan sekaligus teguran bagi orang-orang percaya yang tidak menyadari pemeliharaan dan perlindungan Tuhan.

Sudahkah kita bersaksi kepada orang lain tentang Tuhan Yesus?  Atau kita malu bersaksi karena menyadari bahwa kehidupan kita sendiri belum bisa menjadi kesaksian bagi orang lain? Setiap kita pasti pernah mengalami pertolongan Tuhan: disembuhkan dari sakit, dipulihkan rumah tangganya dan lain sebagainya. Inilah yang harus kita saksikan kepada orang lain. Jadi tugas kita hanya bersaksi, sedangkan yang membuat orang lain menjadi percaya kepada Tuhan Yesus adalah pekerjaan Roh Kudus.
Jangan tunda waktu menceritakan kebaikan Tuhan atas kita kepada orang lain.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *