Iri Hati Adalah Sumber Konflik


“…Aku kuatir akan adanya perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, fitnah, bisik-bisikan, keangkuhan, dan kerusuhan.” (2 Korintus 12:20).

Jika kita memperhatikan keadaan dunia saat ini banyak terjadi kekacauan, termasuk di Indonesia. Konflik, permusuhan, sengketa, baku hantam hampir setiap hari menghiasi layar kaca kita. Mengapa hal ini sering terjadi?  Banyak faktor yang menyebabkan hal-hal tersebut di atas terjadi, salah satu penyebabnya adalah iri hati.  Iri hati seringkali menjadi penyebab tercabiknya kerukunan dan persatuan suatu komunitas.

Ada teolog yang mengatakan, “Semua kejahatan di muka bumi ini berawal dari satu sumber, yaitu kesombongan dan iri hati.” Karena iri hati, Kain membunuh Habel, adiknya. Karena iri hati, orang Yahudi menyerahkan Yesus agar disalibkan. Karena iri hati, sekarang ini banyak orang berusaha membunuh reputasi atau kebaikan orang lain.

Iri hati terjadi ketika seseorang tidak bisa menerima bahwa orang lain memiliki kelebihan: lebih kaya, lebih cantik atau tampan, lebih populer, lebih berbakat, dan lain-lain. Iri hati berdampak buruk pada diri seseorang dan mendorongnya berbuat jahat pada orang yang menjadi sasaran iri hatinya akibat rasa tidak puas yang terpendam. Seperti kanker, iri hati menggerogoti vitalitas hidup dan jiwa manusia.

Karena orang lain lebih berhasil dalam pekerjaannya, seseorang menjadi panas hati sehingga ia merancang kejahatan untuk menghancurkannya;  orang yang tekun bekerja di kantor dicap sebagai orang yang suka ‘cari muka’ pada pimpinannya. Jangan katakan kalau rasa iri hati itu hanya dilakukan oleh orang-orang dunia, banyak juga anak-anak Tuhan yang belum terbebas dari roh iri hati. Melihat rekan sepelayanan lebih dipakai Tuhan, menjadi berang dan berusaha untuk menghasut orang lain dengan gosip-gosip miring.

Dalam suratnya, Yakobus menulis:  “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” (Yakobus 3:16). Itulah kenyataan yang terjadi dan sedang melanda kehidupan manusia. Tidak sepatutnya di antara umat Tuhan saling iri hati karena itu hanya akan mendatangkan segala macam perbuatan jahat.  Siapa yang akan berjingkrak kegirangan jika di antara anak-anak Tuhan saling iri hati?  Pastinya Iblis!  Kita harus sadar, ditinjau dari sudut mana pun iri hati sama sekali tidak mendatangkan kebaikan, sebaliknya hanya akan merusak dan menghancurkan diri kita, juga orang lain.

Salomo mengatakan, “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, Iri hati membusukkan tulang” (Amsal 14:30) Orang yang dikuasai iri hati akan menjadi kalap, gelap mata, bahkan terhadap saudara kandungnya. Itulah yang menimpa saudara-saudara Yusuf. Karena iri hati, mereka ingin membunuh Yusuf, namun kemudian memasukkannya ke sumur dan menjualnya kepada orang Midian. Walaupun iri hati mereka beralasan, bukan berarti sikap buruk itu harus dipelihara. Ketika iri hati dibiarkan, cinta pun padam.

Iri hati muncul karena seseorang terlalu memfokuskan perhatian pada milik orang lain sehingga ia lupa untuk bersyukur pada Tuhan dan puas atas miliknya sendiri. Agar terlepas dari cengkraman iri hati, ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan oleh Tuhan. Iri hati pada orang lain tidak akan pernah menambahi apa yang telah kita miliki, malah akan menggerogotinya.

“…Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?” (1 Korintus 3:3)

Masihkah kita harus iri hati? Tidak ada jalan lain, harus segera bertobat, mohon pertolongan Roh Kudus dan milikilah penyerahan diri kepada Tuhan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *