Pit Stop


Michael Schumacher menjadi juara dunia Formula One (F1) tujuh kali. Ia mampu memacu mobil balapnya dengan kecepatan di atas 300 km/jam, menyelesaikan puluhan putaran dalam waktu yang amat cepat. Dalam balapan Formula One, ada satu strategi yang bisa menentukan hasil akhir dari sebuah balapan. Strategi itu adalah strategi dalam melakukan pit stop. Dalam setiap balapan Formula One, setiap mobil setidaknya perlu untuk melakukan pit stop minimal satu kali. Dalam pit stop yang hanya berlangsung beberapa detik itu, pembalap melakukan pengisian bahan bakar, mengganti ban yang aus, dan memeriksa setiap peralatan mobilnya.

Rekor dunia mencatat Tahun 2016 Europe Grand Pix di Azerbaijan Team Williams Racing memegang rekor pit stop tercepat yaitu 1.92 detik. Mengalahkan rekor sebelumnya Tahun 2013 yang dipegang Team Red Bull di US Grand Prix yaitu 1,923 detik.

Sejarah mencatat, dalam Formula One strategi pit stop tidak jarang menjadi penentu. Perhentian sesaat di pit stop itu bisa mengantar seorang pembalap meraih kemenangan. Sama dengan kehidupan kita. Setiap hari kita menjalani berbagai aktivitas dan kerap terjebak dalam rutinitas. Tujuh hari dalam seminggu kita memacu diri kita dengan berbagai kesibukan pekerjaan, mungkin ditambah juga dengan pelayanan di gereja atau aktivitas di tempat lain. Sehingga karena terlalu sibuk sampai-sampai kita pun kerap kali lupa hal yang sangat penting, yaitu “berhenti” sejenak.

Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil dan beristirahat sejenak!” (Markus 6:31)

Dalam ayat diatas, Tuhan Yesus mengetahui kelelahan para murid-Nya setelah melayani orang banyak. Dia pun lalu mengajak mereka beristirahat, menarik diri dari kesibukan. Ada saat di mana kita harus sejenak berhenti. Mengambil jeda dari kebisingan hidup. Sejenak menarik diri dari hiruk pikuk rutinitas. Mengistirahatkan bukan hanya tubuh, tetapi juga hati dan pikiran. Saat di mana kita memeriksa dan mengasah diri. Ibarat merecharge baterai kehidupan kita. Untuk kemudian bersiap melanjutkan perjalanan lebih jauh lagi. Percayalah, dengan demikian hidup kita akan semakin produktif dan efektif, baik pekerjaan maupun dalam pelayanan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *